Ekspor Produk Sawit Indonesia Tembus Diangka Rp54 Triliun Lebih

Ekspor Produk Sawit Indonesia Tembus Diangka Rp54 Triliun Lebih
Ekspor sawit RI meningkat. (Foto istimewa)

Jakarta, BGNNEWS.CO.ID -  Ekspor produk sawit Indonesia, termasuk CPO, olahan PKO, oleokimia, dan turunannya pada Maret 2025 mencapai 2,878 juta ton, naik 2,7% dibandingkan Februari yang tercatat 2,803 juta ton.

Namun, ekspor minyak sawit mentah (CPO) justru mengalami penurunan signifikan sebesar 77 ribu ton, dari 246 ribu ton di Februari menjadi 169 ribu ton di Maret. Sebaliknya, ekspor produk olahan PKO melonjak 49,15% dari 112 ribu ton menjadi 167 ribu ton.

Kontribusi terbesar tetap datang dari produk olahan sawit (PO processed) yang naik menjadi 2,128 juta ton, dibandingkan 2,079 juta ton pada bulan sebelumnya. Ekspor oleokimia juga tumbuh menjadi 407 ribu ton, naik dari 364 ribu ton.

Dilihat dari negara tujuan, ekspor ke beberapa pasar utama justru mengalami penurunan. Misalnya ke China menurun dari 434 ribu ton menjadi 384 ribu ton, India anjlok dari 387 ribu ton menjadi 271 ribu ton, Pakistan turun dari 361 ribu ton menjadi 234 ribu ton, dan Bangladesh turun dari 194 ribu ton menjadi 147 ribu ton.

Namun demikian, penguatan terjadi di pasar alternatif seperti Uni Eropa meningkat dari 298 ribu ton menjadi 343 ribu ton, Amerika Serikat melonjak tajam dari 153 ribu ton menjadi 249 ribu ton, Timur Tengah naik dari 113 ribu ton menjadi 159 ribu ton.

Secara nilai, ekspor sawit Indonesia pada Maret 2025 tercatat US$3,283 miliar atau setara Rp54,1 triliun, meningkat 2,84% dari Februari yang sebesar US$3,192 miliar (Rp52,15 triliun). Kenaikan nilai ini didorong oleh harga CPO global yang naik dari US$1.232/ton menjadi US$1.251/ton (cif Rotterdam), pelemahan nilai rupiah dari Rp16.338/US$ ke Rp16.474/US$, sehingga meningkatkan nilai ekspor dalam rupiah.

Adapun untuk produksi CPO dan PKO nasional pada Maret 2025 meningkat 16% menjadi 4,808 juta ton, naik dari 4,144 juta ton pada Februari. Namun secara tahunan (year-on-year), produksi Januari–Maret 2025 masih sedikit tertinggal 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, stok akhir bulan Maret tercatat 2,036 juta ton, turun dari 2,249 juta ton di Februari, menandakan penyerapan yang cukup kuat di pasar domestik dan internasional. (jdi/swi)

Berita Lainnya

Index